Tuesday, February 27, 2018

galeri nasional, jakarta - 29 oct 2017

29.10.2017
rita and aza

Galeri Nasional
National Gallery of Indonesia
Jl. Medan Merdeka Timur No.14
Gambir
Jakarta Pusat
02134833954
http://galeri-nasional.or.id/

Temporary Exhibition #1
Pameran Tunggal Suherry Arno
''Melampaui Fotografi''

Melampaui Fotografi bukanlah sebuah representasi dari realitas seperti kebanyakan foto pada umumnya. Melalui karya-karyanya, Suherry Arno cenderung mengolah aspek rupa, membuat foto-fotonya keluar dari batasan paling umum tentang fotografi yaitu rekaman realitas. Alih-alih mengembangkan narasi di balik realitas yang direkam, ia justru mengembangkan bahasa visual pada foto-fotonya. 

Foto-foto Suherry Arno memperlihatkan perubahan progresif namun tidak kentara, yang berpangkal pada pengolahan berbagai aspek visual. Bukan hanya karena siasat pemotretan, perubahan ini muncul dari pengolahan panjang yang melibatkan proses kamar gelap dan pencetakan foto. 

Di mata Suherry Arno, pemotretan ditentukan oleh hasil akhirnya dalam bentuk print. Bukan sebagai hasil dari pemotretan, tapi sebagai hasil akhir terbaik yang dapat diciptakan. Keyakinan ini membuat Suherry Arno merasa harus menjalani sendiri proses di kamar gelap dan pencetakan, agar tidak kehilangan kemungkinan dalam mencari hasil akhir yang terbaik. 

Mengenai proses, Suherry Arno mempraktekkan fotografi secara total. Ia tidak lagi mempersoalkan perbedaan antara fotografi analog dan digital, ia justru menggabungkan keduanya. Berbekal pengalamannya berguru pada pakar dari Indonesia dan ahli kelas berat dunia, Suherry Arno menjelajahi kemungkinan-kemungkinan dari berbagai proses yang rumit dan langka.

(source: galeri nasional's website)


CPDC, 2010

mata jitu, 2014
 
for rita's version of mata jitu, please see http://ritaaza.blogspot.co.id/2015/10/mata-jitu.html








Temporary Exhibition #2
Retrospeksi Nasjah Djamin

Dikuratori Suwarno Wisetrotomo, pameran ini menampilkan karya-karya lukisan Nasjah Djamin dari koleksi pribadi keluarganya dan juga beberapa dokumentasi, arsip, juga artefak yang mengupas perjalanan kesenian Nasjah Djamin. Diungkap Suwarno, secara sederhana, lukisan-lukisan Nasjah dapat dikelompokkan dalam dua tema utama. Pertama, tema potret, termasuk di dalamnya potret diri, potret sahabatnya, dan orang-orang yang dikenal dengan baik. Lukisan potret itu sebagian besar merekam sosok tunggal, laki-laki maupun perempuan, dan sebagian lainnya potret kerumunan.
Kedua, adalah tema  panorama (landscape), dengan berbagai wujud, antara lain lanskap pantai lepas, hamparan padang pasir dan perbukitan, serta bentangan sawah dan gunung-gunung. Lanskap dalam gubahan Nasjah adalah lanskap yang sudah berada dalam resapan jiwanya, atau paduan antara realitas, imajinasi, situasi jiwa yang diungkapkan melalui sepotong panorama. Lukisan-lukisan itu seperti mengabarkan tentang realitas kehidupan, utamanya kehidupan para perempuan lapis bawah, para perempuan pekerja kasar, demi ketahanan hidup (survivality). Pada bentangan panorama – perbukitan, pantai, sungai, sawah, jalan setapak – hampir selalu dihadirkan sosok-sosok perempuan dalam citra gerak dalam suasana bekerja. Mereka, para perempuan itu, adalah sosok-sosok pekerja;  memanen padi, menambang pasir atau batu, petani garam, berarakan ke pasar. Di punggung para perempuan itu selalu bertumpuk gendongan, yang mengukuhkan bahwa mereka adalah pilar penyangga kehidupan keluarga, para pekerja keras dan mandiri.
Sosok-sosok itu selalu tampak kecil, terlihat dari kejauhan. Cara ungkap semacam itu dapat dilihat sebagai sebuah isyarat spiritualitas, bahwa manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi, sesungguhnya hanya makhluk kecil di tengah semesta raya. Sosok-sosok itu tidak sedang ‘menguasai’ alam dengan rakus dan destruktif, tetapi sekadar memanfaatkan dan mengolah alam untuk kehidupan secukupnya. 

(source: galeri nasional's press release)



panen padi


sawah hijau I




merdeka atau mati


tiga perahu



pantai hitam putih






Temporary Exhibition #3
9 Ruang Abstrak

Ruang Abstrak yang terdiri dari Andi Suandi, Ar.Soedarto, Baron Basuning, FX. Jefrrey Sumampouw, Gogor Purwoko, Irawan Karseno, Krishnaeta, Nunung WS dan Sulebar M. Soekarman. Menyimak dengan takzim pada karya serta melalui pengenalan etnografis  kepada masing-masing sosoknya, menjadi terbaca bahwa sembilan perupa ini sudah terwadahi oleh berbagai kerangka terminologis, ontologi dan kekuatan prosesi sejarah yang mereka jalani baik sebagai individu ataupun kolegial.  Pun dalam rangka pendekatan idealisasi nilai seni abstrak yang mereka suguhkan, telah membuktikan upaya keras mereka memenuhi faktor-faktor ideal, profesionalisme dan transparansi terhadap kulminasi spiritual yang dialaminya. Al hasil tatkala karya-karya sudah menjelma dan dinikmati oleh sang liyan, pencerahan dirinya adalah pencerahan untuk sang liyan, dan tatkala nilai-nilai luhur dari prosesi estetika kreatifnya tersebut  menjadi ekspresi keseharian yang nyata, maka ekspresi sang liyan pun akan menuju kepada penyertaan dan harmoni. 

(source: galeri nasional's press release)

journey in golden era, 2017









Follow me on Instagram @rita.san

For more art events, please click here






No comments: